GURU adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur SEKOLAH atau pendidikan formal, pendidikan DASAR, dan pendidikan menengah. GURU-GURU seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang GURU. wikipedia
Rabu, 01 April 2015
MORALITAS DAN HUKUM
Jumat, 03 Januari 2014
Kamis, 29 Agustus 2013
Mengajari bayi berenang
Mengajak bayi berenang, bisa menjadi saat yang sangat indah dan menyenangkan. Anda dan
bayi bisa bebas bermain air dan berenang. Namun tidak semua bayi berani berada di kolam
renang. Jumlah air di kolam renang yang jumlahnya lebih banyak dibanding air bak mandinya,
bisa membuat bayi menjadi takut. Coba lakukan beberapa tips berikut ini, agar pengalaman
pertamanya di kolam renang menjadi saat yang menyenangkan.
Mulailah pada usia 4-7 bulan. Kemampuannya untuk segera manarik napas sebelum
menyentuh air belum hilang (reflek akuatik). Usia ini pas juga untuk melatih koordinasi gerakan
otot-otot tubuhnya.
Latihan di kamar mandi. Gunakan waktu mandi untuk memperkenalkan bayi kepada air. Bawa
beberapa mainan kesukaannya yang bisa dipakai di dalam air dan bermainlah bersamanya, agar
bayi merasa enjoy dan nyaman lama berada di dalam air.
Bertahap. Jangan terburu-buru dan terlalu memaksakan diri. Mulailah dengan mengajaknya
bermain dulu di pinggir kolam. Biarkan bayi Anda menikmati cipratan-cipratan air di tubuhnya.
Sehingga keberaniannya sedikit demi sedikit timbul. Begitu dia sudah mulai menikmatinya,
pelan-pelan gendong masuk ke dalam kolam renang, biarkan dia tetap dekat dengan Anda
sehingga dia tetap merasa aman. Ajak dia bermain air sambil bernyanyi. Ciptakan suasana se-
rileks mungkin. Lakukan beberapa kreatifitas gerakan yang menyenangkan, sehingga dia pun
betah berada di kolam renang. Jika sudah mulai nyaman dan akrab dengan air, barulah ajari dia
berenang.
Batasi waktu. Untuk usia 4-7 bulan cukup 10 menit saja, agar tidak sakit dan menelan terlalu banyak air.
Doel
Minggu, 09 Juni 2013
AsSibaq (berpacu)
Hidup adalah masa karya. Setiap kita diberi rentang waktu, yang kemudian kita sebut umur, untuk berkarya. Harga hidup kita, di mata kebenaran, ditentukan oleh kualitas karya kita. Maka sesungguhnya waktu yang berhak diklaim sebagai umur kita adalah sebatas waktu yang kita isi dengan karya dan amal. Selain itu, ia bukan milikmu.
***
Itulah undang-undang kebenaran tentang hakikat waktu. Kita bukan waktu yang kita miliki. Tapi kita adalah amal yang kita lakukan.
Dalam relung hakikat itulah Allah SWT menurunkan titahNya untuk ‘berpacu’ dan ‘berlomba’ dalam medan kehidupan (as-Sibaq). Hidup ini adalah jalan panjang yang harus kita lalui. Tak satupun diantara peserta kehidupan itu yang diberitahu dimana dan kapan ia harus berhenti. Sebab tempat perhentian pertama yang engkau tempati berhenti adalah ajalmu. Akhir masa karyamu.
Begitulah para sahabat dan semua manusia muslim yang agung dan besar yang pernah hadir di pelataran sejarah, memahami makna waktu dan hidup, serta melaluinya dengan semangat perpacuan yang tak pernah dapat digoda oleh kelelahan.
Apa yang mereka pakai adalah kendaraan jiwa yang seluruh muatannya adalah makna hidup itu sendiri, serta kehendak yang telah terwarnai oleh makna itu. Tak ada ruang kosong dalam kendaraan jiwa mereka yang tak terisi oleh kehendak dan azimah.
Perjuangan, bagi manusia-manusia agung itu, adalah sebuah instink yang sama kuatnya dengan instink lain dalam diri mereka. Sebab, kata sastrawan Mesir, Musthofa Shodiq Ar-Rofi’i, “Rupanya perjuangan itu mempunyai instink yang sanggup mengubah seluruh kehidupan ini menjadi kemenangan. Sebab setiap anak pikiran yang hinggap disitu, selalu langsung menjelma jadi pembunuh-pembunuh kekalahan”.
Mengeluh, dalam instink perjuangan mereka, hanyalah sepoi yang hendak merayu benteng obsesi mereka. Kelelahan, dalam tradisi keagungan mereka, bagai sebatang lilin yang ingin menghisap gelombang. Semua yang ada di permukaan bumi ini adalah tanah tempat kaki kebesarannya mengayuh derap langkah melewati hari-hari.
Dalam semangat perpacuan itu, semua tantangan yang mereka temui hanya berfungsi melahirkan bakat-bakat baru, kecerdasan-kecerdasan baru, kehendak-kehendak baru.
Inilah rahasia besar yang menyingkap tabir kebesaran sahabat, tabi’in serta ulama, zu’ama dan mujahidin besar yang pernah menggoreskan tinta emas dalam sejarah Islam kita. Banyak diantara mereka yang syahid dalam usia yang teramat muda. Imam al-Ghazali meninggal dalam usia 45 tahun, Umar bin Abdul Azis dalam usia 39 tahun, dan Hasan al Banna dalam usia 41 tahun. Tapi ‘usia’ mereka bagai memanjang mengikuti rentang panjang keabadian.
“Sebab ketika jiwa itu kosong, pikirannya akan lebih kosong. Ia akan terus mencari semua yang akan membuatnya lupa pada sang jiwa. Sedang manusia agung itu, hidup penuh sepenuh jiwanya,” kata Musthofa Shodiq Ar-Rofi’i. []
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Rabu, 29 Mei 2013
Evaluasi semester 2, menjelang ulngan umum diknas
Sepekan yang lalu Anak-anak telah mengerjakan soal yang diberikan pengawas saat evaluasi semester 2 menjelang ulangan umum yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan setempat.
Mereka begitu antusias mengikutinya dengan semangat, semangat untuk jujur, percaya diri dan mengaharap keridloan allah swt.
Sekolah menjadi salah satu sarana pembelajaran anak selain di rumah maupun di lingkungan masyarakat. Sekolah dijadikan sarana sosialisasi dan aktualisasi diri dalam pembentukan pribadi anak.
Orang tua kadang berfikir bahwa pendidikan anaknya hanya di sekolah saja, sebenarnya salah walaupun sebagian besar waktu mereka berada di sekolah bukan berarti pendidikan dibebankan sepenuhnya pada sekolah si anak, tapi yang paling mendasar adalah pendidikan berawal dari lingkungan keluarga.
Disinilah orang tua wajib menanamkan pengetahuan atau pendidikan di mulai sejak dini, mulai dari sikap dan tingkah laku maupun pendidikan agama sekalipun harus ditanamkan sedini mungkin. Sehingga ketika mereka sudah masuk usia sekolah minimal apa yang ditanamkan dari orang tua dapat diaplikasikan di dunia sekolah mereka.
ADMIN
Jangan Berduka
Salim A Fillah
Jogja
Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan bala tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS At-Taubah: 40)
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita; memihak dan membela, menjamin dan menjaga, meridhoi dan mengaruniakan pahala.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita; diperjalanan yang panjang titiannya, sedikit pendukungnya, banyak timpaannya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita; rasakan pengawasan-Nya, hati-hatilah dari mendurhakai-Nya, takutlah akan murka-Nya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita; mohonlah ampunan-Nya, pintalah rahmat-Nya, teruslah berbincang mesra dengan-Nya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita; malulah bermalas dan sia-sia,baguskan kinerja, berjuanglah puncakkan karya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita; sucikan prasangka, lapangkan dada, maklumi kekurangan sesama, maafkan kesalahannya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita; ingat dan dekatilah, takut dan berharaplah, puji dan mengabdilah. Cintailah.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita; sekian tadabur ayat, semoga bermanfaat didunia dan diakhirat.
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Rabu, 22 Mei 2013
Kecelakaan Mobil di Jalan Tol : Jilbab Telah Menyelamatkan Wajah anakku
Akhwatmuslimah.com – Kisah nyata ini terjadi waktu musibah kecelakaan mobil travel jenis mini bus (Isuzu-ELF) yang ditumpangi anak bungsuku di jalan TOL Cipularang Km. 112,8 arah Bandung dari Jakarta pada hari Kamis sore tanggal 3 Maret 2011 yang lalu.
Kronologis kecelakaan bermula mobil ELF berjalan zigzak ke arah pinggir jalan sebelah kiri kemudian memutar ke arah kanan dan menabrak pembatas jalan, selanjutnya mobil tersbut terguling dengan sisi mobil sebelah kiri meluncur di atas aspal jalan tol.
Menurut penuturan anak bungsuku (sebut saja namanya Ayang) duduk pada posisi paling pinggir disebelah kiri, dia pun tertindih dua orang penumpang lain yang duduk disebelah kanannya. Bisa dibayangkan situasi yang dialaminya pada waktu kejadian kecelakaan tersebut dengan lengan dan bagian kepala sebelah kirinya menempel dan terseret di atas pecahan kaca dan aspal jalan tol (lihat Foto) terlampir.
Dengan menyebut nama-Nya “Allahu Akbar – Laa ilaha Illallahu Wallahu Akbar”, anakku tersadar dengan apa yang telah terjadi dan dia merasakan bahu sebelah kirinya terasa sakit dan tangan kirinya tidak bisa digerakkan…..”Subhanallah” pada waktu di evakuasi melalui kaca mobil dibagian belakang yang telah dipecahkan oleh relawan penyelamat, anakku hanya berpesan agar tangannya jangan dipegang dan mohon ditarik keluar dengan hanya memegang pinggang dan kakinya, tapi tangan sebelah kiri itu tetap saja tersentuh sehingga menimbulkan rasa sakit.
Dalam musibah kecelakaan yang begitu dahsyat ternyata Allah Swt masih memberi perlindungan dan kesadaran kepada anak bungsuku, setelah anakku diselamatkan dan didudukkan di pinggir jalan dia pun mohon diambilkan tas bawaannya yang tertinggal di atas mobil, kemudian anakku masih sempat mengabadikan mobil yang tergeletak di tengah jalan serta mengabarkan musibah tersebut kepada kakak perempuannya, teman kuliahnya di IT-Telkom Bandung dan Bundanya di Jakarta melalui pembicaraan lewat HP yang dimilikinya.
Kepada bundanya dia berkata : …”ayang baru saja kecelakaan mobil di jalan tol cipularang bersama rombongan keluarga yang datang dari Ipoh Malaysia”.
Dengan perasaan cemas sambil mengabarkan musibah tersebut kepada saya, Bundanya bertanya : ….”gimana keadaan ayang sekarang ???”
Anakku menjawab : …”Ayang tidak apa-apa, cuman tangan sebelah kiri terasa sakit dan tidak bisa digerakkan”
Bundanya bertanya lagi : …”Ayang sekarang ada dimana ?” … maksudnya apa masih ditempat kejadian atau sudah dibawa kerumah sakit.
Anakku menjawab : …”Ayang masih di tempat tejadinya kecelakaan di kilometer 112,8 arah ke bandung”
Dengan linangan air mata dan suara ter-isak, bundanya menjawab lagi : Iya…Iya, sabar ya nak, Bunda dan Ayah akan segera berangkat kesana sekarang juga.
Begitulah pembicaran singkat anak bungsuku dengan bundanya dan kamipun berangkat ke bandung dengan tergesa-gesa tanpa membawa pakaian untuk pengganti bersama kakaknya karena ada rencana untuk dibawa pulang dan dirawat pada salah satu rumah sakit terdekat di jakarta.
Didalam perjalanan salah seorang teman kuliahnya mengabarkan bahwa ayangtelah berada dan dirawat di RS. Cahya Kawaluyan (cabang RS Borromyus Bandung) yang terletak di Kota Baru Parahyangan – Padalarang.
Sesampai di rumah sakit tersebut kami temui ayang diruang UGD dengan infus dipergelangan tangan dan hidungnya ditemani teman2 baiknya serta sepupunya Econ (anak adik saya) dari bandung dengan kondisi lengan kiri luka tergores cukup banyak dan kepala sedikit memar.
Setelah berbicara seadanya dengan ayang, kamipun dipanggil oleh tim dokter yang menangani pertolongan pertama sambil memperlihatkan hasil rontgen tulang dan CT Scan Kepala. Ternyata tulang bahu kiri anakku mengalami patah tulang sampai bergeser dan dempet (bertindihan) dan syukur alhamdulillah di bagian organ kepala hasilnya dinyatakan “Baik” semua dan tidak ada kelainan walaupun ada memar (bengkak) didekat telinga kiri.
Mengingat jarak rumah sakit di komplek perumahan Kota parahyangan Padalarang yang jauh dari kota Bandung dan atas kesepakatan pihak travel dan kami sekeluarga serta saran salah seorang kerabat (Ibu Baihakim) maka anak-ku hanya satu malam dirawat di RS Cahya Kawaluyan dan pelaksanaan operasi tulang bahu & perawtan dipindahkan / dirujuk ke RS. Halmahera Siaga (Khusus Bedah Tulang) di kota Bandung. Setelah menjalani perawatan pasca selama 4 (empat) hari anak bungsuku sudah boleh rawat jalan dan dibawa pulang ke rumah di jakarta dan pada hari Sabtu tgl 12 Maret 2011 kembali ke rumah sakit yang sama untuk dilakukan kontrol (pemeriksaan) pasca operasi.
Kembali kepada judul catatan ini : “JILBAB telah menyelamatkan WAJAH Anak-ku” ….., walaupun baju bagian bahu dan lengan sebelah kiri serta “jilbab” yang dipakai anakku sampai sobek ter koyak2 ternyata mukanya tidak ada terdapat goresan luka sedikitpun jua karena terlindung dandilindungi oleh selembar Jilbab yang selalu dipakai anak-ku apabila bepergian atau keluar rumah.Allahu Akbar3x dan Subhanallah Padahal lengan kiri anak bungsuku mengalami luka2 serta tulang bahunya patah dan harus dilakukan tindakan operasi (bedah) tulang untuk penyembuhannya.
Terima kasih ya Allah yang maha pengasih dan penyayang, Engkau telah menyelamatkan nyawa anak-ku dan melindungi mukanya dari musibah kecelakaan yang dialaminya. Hanya Kepada-Mu ya Allah ya Rakhman kami memohon menadahkan tangan dan berdo’a : Semoga anak kami diberi kesembuhan dan cepat pulih kembali untuk bisa beraktivitas melanjutkan studinya yang hanya tinggal menyelesaikan penulisan skripsi di IT-Telkom Bandung, Amin Ya Rabbal Alamin…!
Rating: 6.9/10 (7 votes cast) Kecelakaan Mobil di Jalan Tol : Jilbab Telah Menyelamatkan Wajah anakku
"Ketika Hati-hati ini Sudah Bersatu diatas Cinta"
by @ridlwanjogja
jurnalis
Apa sih yang menyebab "Ketika Hati-hati ini Sudah Bersatu diatas Cinta" | by @ridlwanjogja kan seorang mau bekerja dengan tulus dan ikhlas? Salah satunya: ketenangan hati.
Di dunia kerja, kalau hati karyawan udah dipegang bos, tanpa harus diperintah pun akan kerja dengan happy dan riang.
Di dunia bisnis, kalau hati konsumen udah kepegang, nggak perlu iklan juga akan mborong produk kita.
Di sekolah, kalau hati murid udah mencintai guru betapa senang dan semangatnya mereka mengerjakan PR.
Kalau guru idaman hati belum datang, murid malah gelisah. Ada rasa kangen.
Di masyarakat, aktivis dakwah pun dinilai dari ketulusan hatinya. Ketulusan hati bisa mengalahkan Fulus.
Begitulah. Komando tubuh datang dari hati. Kita setiap hari berhubungan dengan hati-hati manusia yang bermacam2 karakternya.
Dalam mengajak kebaikan, Syekh Abbas As Sisi mengingatkan kita dalam bukunya At-Tariq Ilal Qulub, jalan menuju hati.
Ada tiga objek dakwah yang kita ajak dalam kebaikan. Ibarat memilih buah apel. Ada yg mentah, matang siap panen , dan apel busuk.
Hati yang hidup adalah hati yang sehat dan bersih, selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah.
Hati ini selamat dari penghambaan kepada selain Allah, selamat dari berhukum kepada selain hukum Allah.
Bersih dalam mencintai Allah dan mengikuti Rasulullah.
Wah ini prioritas dakwah. Ibarat buah apel siap panen, mereka siap diajak bergabung dalam kebaikan.
Yang kedua, hati yang sakit . Di antara tanda sakitnya adalah pemiliknya tidak merasa risih dg kebodohannya terhadap kebenaran.
Tanda yang lain, pemiliknya lalai dari nutrisi hati yang bermanfaat, misal : membaca Al Quran.
Hati yang seperti ini membutuhkan mau’izhah (pengarahan) hasanah (yang baik). Ibarat apel, mentah. Prioritas kedua.
Yang ketiga , hati yang mati. Hati yang tidak mengenal Tuhannya, tidak menyembah-Nya sesuai dg yg diridhai-Nya. Naudzubillahimindzalik.
Hati mati ini juga selalu menuruti keinginan nafsu dan kelezatan dunia. Hati mati ini menghamba kepada selain Allah.
Celakalah bagi mereka yang tidak memiliki hati, yaitu hati yang tidak bisa mengenal manakah kebaikan dan manakah keburukan.”
Yang lebih parah, orang yang hatinya mati tetapi ia tidak merasakan kematian hatinya. Ibarat, apel, ini sudah busuk dg ulat2.
Waktu kita terbatas. Ada begitu banyak hati yang hidup yang siap diajak berbuat kebaikan. Itulah pentingnya fiqh prioritas.
Melayani haters, pemfitnah dan para pembenci bukan tidak perlu namun khawatirnya apel-apel yang sudah siap panen justru kita lalaikan.
Saya ajak hati saya, mari fokus pada amal-amal kebaikan. Dalam hal-hal sederhana sehari-hari. #NTMS (Note to My Self).
Berjabat tangan, menebarkan salam, menghafal nama, memberi tempat duduk, senyum. Semuanya melembutkan hati.
Ketika hati-hati sudah bersatu, takliful qulub, maka jangan tanyakan lagi kekokohan bangunan ukhuwahnya. Jangankan cuma berita.
Dibunuhi satu-satu pun, tetap kokoh. Ini bukan gendam dan pelet bung. Ini kesatuan hati.
Dakwah diikat dengan kesatuan hati. Setiap langkahnya berdasarkan dengan landasan cinta.
Bertemu dengan landasan cinta (2:165); berjumpa dalam rangka taat (3:32); saling bersatu untuk dakwah (41:33).
Hasilnya, selalu diberikan cinta (5:54); diberikan bimbingan jalan-jalan keselamatan (5:16; 29:69); dipenuhi cahaya (2:257; 24:35-37).
Dilapangkan dadanya (6:125); dibangkitkan dengan makrifatullah (6:122; 42:52-53); dan diwafatkan dalam keadaan syahid (3:154).
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu. Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Amiin. Selamat berkarya dan menyentuh hati, dengan cinta!
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Selasa, 07 Mei 2013
"Lahirnya Pemimpin Semesta"
Ahmad Hudan Ro'isyi
Menjadi pemimpin merupakan cita cita setiap manusia. Bahkan di dalam keseharian kita dianjurkan untuk berdoa agar dijadikan pemimpin. Menjadi pemimpin merupakan social needs. Hal ini merupakan sebuah resiko hidup menjadi makhluk sosial. Kebutuhan menjadi seorang pemimpin berlaku dalam semua aspek.
Contohnya dalam tataran sosial, dalam tataran bisnis, dalam tataran keagamaan, dalam tataran entitas kebudayaan dan lain sebagainya. Walaupun dalam prakteknya seluruh tataran tersebut masuk dalam bingkai keagamaan, artinya disini agama mengambil peran yang signifikan untuk mengolah manusia menjadi pribadi pribadi unggul yang siap ditempatkan untuk berkontribusi ke seluruh tataran atau lapisan masyarakat.
Di dalam masyarakat sosialis sekalipun mereka masih membutuhkan value yang ujung ujungnya menjadi dogma mereka dalam bertindak di kehidupan. Value inilah yang menjadi energy sources untuk melakukan aplikasi kepemimpinan. Di dalam masyarakat yang meyakini agama dalam kehidupannya, value itu merupakan perasan dari ajaran keagamaan. Value itulah yang menjadikan dirinya bergerak dan mengaplikasikan kepemimpinan dalam mengelola kehidupan.
Dalam sejarah keagamaan role model pemimpin itu dimulai oleh kakek nabi Muhammad SAW yakni Abdul Muthalib. Lihatlah peristiwa penyerangan Bakkah atau Ka’bah oleh Abrahah. Abrahah yang memulai misi penghancuran Bakkah itu awalnya dilandasi oleh sentiment keagamaan. Kecemburuan berpadu dengan semangat 'jihad' membela kebesaran agamanya, manakala usaha Abrahah yang mendirikan gereja terbesar di Yaman yang bertujuan untuk menjadikan yaman menjadi pusat peziarahan mengalahkan Bakkah kelak. Namun apa disangka bangunan gereja yang begitu besar dan indah itu ternyata tidak bisa mengalahkan pesona bangunan sederhana yang disebut Bakkah tersebut. Dari kecemburuan itulah lantas, ada semangat menyala nyala untuk menghapus Bakkah dari pikiran umat waktu itu dan mencoba mengalihkan seluruh perhatian umat ke gereja besar di Yaman.
Epilog kepemimpinan itu dimulai manakala Abdul Muthalib hendak menemui raja Abrahah. Dimana diketahui sebelumnya 100 ekor unta milik Abdul Muthalib di rampas oleh pasukan abrahah. Ditunjukkannya kewibawaan abrahah ketika berkemah di padang gersang. Dengan beralas permadani terbaik yang ia punya, memakai mahkota emas kebesaran, dan jubah kerajaan berjuntai dan bahkan tenunan yang halus berpadu dengan pakaian perang kerajaan. Di atas singgasananya pandangan Abrahah sedikit terganggu dengan seorang pemuda yang datang dari kejauhan dengan menunggang unta. Sosok yang jauh itu sedikit demi sedikit bergerak mendekatinya. Hingga sayup sayup terlihat jelas sosok pemuda yang amat menarik hatinya. Dia melihat cara dia menunggang, tegak tubuhnya, cara dia memperlakukan tunggangannya. Hingga turun dari tunggangannya dan berjalan ke arah singgasananya begitu jelaslah pesona kewibawaan sang Abdul Muthalib.
Begitu seksama raja Abrahah melihat ke arah pemuda itu, perasaan terpukau dan terkagum akan liputan kewibaan yang begitu pekat dan jauh lebih tinggi daripada aksesoris yang ia pakai. sehingga ketika Abdul Muthalib berjalan kurang dari 5 langkah, secara reflek Abrahah bergegas bangkit dan melakukan salam penghormatan kepada Abdul Muthalib dalam rangka menghormati kebesaran beliau.
Lihatlah, apa yang dilakukan abrahah pada Abdul Muthalib adalah sesuatu yang jauh dari akal sehat kebanyakan. Bagaimana seorang raja dengan pasukan kavaleri, yang sanggup meluluh lantakkan kota makkah dan sekitarnya, ternyata diam tercekat begitu melihat pesona wibawa yang ditampilkan seorang masyarakat biasa laiknya Abdul Muthalib.
Semakin teranglah perkataan mulia imam Syafi’i dan muridnya, imam Ahmad bin Hambal, bahwa seseorang itu tidaklah tergantung dari pakaian yang ia kenakan. Namun tergantung pada siapa yang memakainya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama imam Syafi’i dan imam Ahmad bin Hambal memiliki karisma kewibaan yang anggun terpatri dalam jiwanya. Siapapun yang membersamainya akan merasakan keteduhan, ketaatan selaku santri, dan kewibaan yang menggejolak. Dan mafhum sandangan yang kenakan begitu sederhana dan murah tidak lebih dari beberapa dirham saja.
Dari sini lantas kita bertanya tanya apa yang menjadikan pengaruh itu muncul dari seorang manusia? Bagaimana energy itu terbentuk dan menebar radiasi pengaruhnya pada orang lain ?
Menyeksamai perkataan Lao Tzu seorang tokoh pemikir dari China bahwa ada 3 elemen pengaruh akan memancar dari diri seseorang bila ditempa yakni :
1. Credibility
Akhir akhir ini sejumlah perusahaan besar mulai menanamkan unsur pertama ini kedalam value karyawan mereka. Didasari keyakinan bahwa bisnis yang mereka kelola sumber energy terbesarnya adalah konsumen. Maka pilar penting yang menghubungkan kegiatan bisnis mereka dengan konsumen adalah trusted. Trusted inilah yang mulai dibangun pelan namun pasti, semakin membentuk citra sebuah perusahaan menjadi perusahaan yang memiliki kredibilitas. Bila modal kredibilitas ini sudah dipunyai maka ditunailah apa yang disebut “sustainable entrepraise”. Perusahaan yang memiliki keuntungan terus menerus dan berdaya tahan lama. Bukan keuntungan menggiurkan namun sesaat sesudah itu hilang tak berbekas.
Sudhamek AWS seorang CEO dari Tudung Group pernah mengatakan “Anda bisa jatuh berkali kali dalam hidup ! namun selama anda punya integritas yakinlah bahwa anda pasti bisa bangkit kembali”.
Intergity itu adalah gabungan antara trusted + Credibility. Pantaslah rosulullah begitu lama bertahun tahun memegang predikat trusted itu.
Kalaulah di BUMI Firdaus ini anda memiliki predikat trusted, maka kira kira kekuatan besar manakah yang hendak menghalangi? Jendral kah, Opini pemilik media kah, Ormas ormas penebar fitnah kah, tokoh tokoh politik kah atau pengusaha kah? Tidak ada yang sanggup menghalangi kekuatan besar Trusted.
Kekuatan trusted ini adalah kekuatan NURANI yang menjadi RUH setiap manusia berhati kotor sekalipun. Kalaulah ada manusia yang melawan kekuatan nurani, maka sejatinya dia tengah melawan diri sendiri. Karena itu hanyalah tinggal menunggu waktu sampai kapan dia sanggup melawan hati nuraninya sendiri. Nurani itu adalah fitrah ketuhanan yang dihembuskan Allah SWT kepada setiap hamba. Apapun agamanya, apapun sukunya, budaya, adatnya tidak ada yang sanggup menghilangkan fitrah fitrah kemanusiaan ini. sekali lagi kalaulah ada yang melawan nuraninya sendiri maka dia tengah melawah fitrah ketuhanan. Lantas siapakah yang menang bilamana dibenturkan 2 aspek ini ? tanpa harus menjawab….. yakinlah bahwa kita semua sudah mempunyai jawabannya.
2. Intimacy
Bisa diartikan kedekatan, kepedulian atau cara membangun hubungan yang harmonis antara seorang leader dengan konstituennya. Artinya hubungan yang terbangun antara pemimpin dan yang dipimpin itu bukanlah hubungan yang jumud, beku, statis. Namun penuh dengan kedinamisan. Disana akan kau dapati hati yang teraduk aduk syarat dengan emosi hingga cerita kehidupan bak laila majnun hingga tak sedikit air mata yang basah karenanya.
Intimacy itu bukanlah hubungan timbal jasa seperti “no Pain no Gain”. Hubungan yang dibangun itu mematahkan batas batas persaudaraan. Komunikasi yang dibangun itu tegak diatas jembatan ketulusan tanpa ada pencitraan atau sandiwara. Kerja mereka terstruktur, terukur, dan mempunyai time line yang jelas. Kerja kerja itu bukan mengacu pada persepsi public atau hasil survey. Ada atau tidak ada hasil survey maka kerja itu tetap dilakukannya. Untuk itulah kita lihat bagaimana tokoh sekaliber Mahat magandi, Bunda theresia telah mengukir namanya dalam sejarah keabadian.
3. Reability
Kecapakapan diperlukan di dalam semua aspek, di dalam level teoritis kadang orang sangat pandai namun ketika turun ke level praktis tidak sedikit yang kedodoran. Oleh karena itu disini diperlukan kapasitas sebagai seorang leader. Bila ranah kerjanya membutuhkan keahlian administrasi maka peran itu haruslah dilakoninya secara professional dan harus expert. Tidak boleh ada kata kata “ah saya belum siap” atau “saya belum menguasai” juga “saya belum PD”.
Bila ditarik lebih luas lagi segmentasinya ke arah Provinsi, atau negara atau bahkan DUNIA tidak boleh ada kata kata negasi itu lagi. Buatlah persepsi akhir kepada diri anda sendiri, bahwa takdir kita adalah menjadi pemimpin dengan segmentasi meng “Global”. Lalu buatlah rancangan rancangan bangunan keilmuwan apa saja yang diperlukan untuk menyokong hal tersebut. Niscaya anda akan menemukan titik terang bahwa sebenarnya ini adalah perintah TUHAN.
Banyak sekali dalam Al qur’an kata kata retoris yakni pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Afala ta’qiluun? afala yatadabbaruun? afalaa tatafakkaruun? namun bila di zoom lebih dekat sebenarnya kalimat itu bukanlah pertanyaan namun lebih kepada sindiran. Sindiran kepada manusia yang telah diberikan modal “berlian” namun ia tanggalkan dan mensia-siakannya.
Kapasitas atau kehandalan itu adalah sesuatu yang sifatnya terbatas terlepas seberapa luas segementasi kapasitas tersebut. Namun daya fikir itu adalah sesuatu yang tak terbatas. Apakah sesuatu yang terbatas itu mengalahkan yang tak terbatas. Hingga akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa Allah menurunkan fikir dan hati itu sudah sangat lebih dari cukup untuk menjadi pemimpin teritori, pemimpin di bumi atau bahkan pemimpin di semesta. Itu semua sangatlah mungkin dilakukan dalam kapasitasnya sebagai khalifah.
Bila ketiga hal tersebut sudah tumbuh, ternyata masih ada satu nganga yang perlu ditutup untuk lebih disempurnakan. Value yang tepat untuk menyempurnakan itu bernama “self orientation”.
Self orientation ini menjadi sumber energi pada siapapun yang hendak bergerak. Bila ingin bergerak selama 5 menit maka pilihlah sumber energy sebesar 5 menit, bila ingin bergerak selama 5 tahun maka pilihlah sumber energy selama 5 tahun saja. Bila kau inginkan bergerak selama 1 abad lamanya maka pilihkan sumber energy yang sebanding dengan itu. Namun kau bila ingin bergerak selama mungkin maka pilihlah generasi yang menjangkau lintas batas usia, waktu, decade, atau bahkan abad.
Sumber energy yang tak terbatas itulah yang disebut sebagai agama. Agama itu menjadi pelontar untuk lebih kencang dalam berlari. Namun agama itu juga bukan berarti slogan yang diawang awang. Namun haruslah diperas peras menjadi makhluk nyata bukanlah bayang bayang semata. Apakah kehendak tuhan yang paling utama untuk manusia. Disitulah kita berangkat.
Pandanglah sejenak dentuman jiwa sang umar bin Abdul azis ini:
“Sesungguhnya aku memiliki jiwa yang berkeinginan sangat kuat, aku bercita-cita untuk tegaknya khilafah maka saya memperolehnya, aku menginginkan menikahi putri seorang khalifah maka aku mendapatkannya, aku bercita-cita menjadi khalifah maka aku mendapatkannya, dan aku sekarang menginginkan surga maka aku berharap untuk mendapatkannya.”
Pada suatu kesempatan Umar bin Khattab mengajukan pertanyaan kepada para sahabat, "Tunjukkan kepada saya cita-cita tertinggi kalian."
Salah seorang dari mereka mengacungkan tangan dan berkata, "Wahai Amirulmukminin sekiranya rumah ini penuh dengan emas, akan saya infakkan seluruhnya untuk jalan Allah." Sahabat itu kelak kita kenal dengan nama Abu Ubaidah bin Jarrah. Umar kemudian melanjutkan cita cita yang lebih baik dari itu ialah “seandainya ruangan ini Allah penuhi dengan pejuang muslim seperti Abu Ubaidah bin Jarrah yang jujur, adil dan bijaksana."
Ke 4 hal tersebut diatas bila diformulakan akan tampak seperti ini:
(Credibility + inctimacy + reability)/ Self Orientation
Bila kita sudah uji cobakan hal tersebut ke dalam diri kita maka siap siaplah menanggung resikonya.-)
Bila di dalam masa nabi nabi ada yang disebut sebagai zaman “fatrah” atau zaman terputus kenabian. Minimal rumus kepemimpinan diatas dengannya kita bisa menghilangkan zaman terputusnya kepemimpinan. Ending of the game nya adalah kepemimpinan semesta. Pada akhirnya jadilah ia firdaus di bumi asia. InsyaAllah.***
*penulis: @hudan_vote on twitter
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Sabtu, 04 Mei 2013
Bebek Menguik dan Elang Terbang (Taxi Bintang Lima)
Suatu ketika, Harvey Mackay sedang menunggu antrian taksi di sebuah bandara. Kemudian, sebuah taksi mengkilap muncul dan mendekatinya. Sang supir taksi pun keluar dengan berpakaian rapi, dan segera membukakan pintu penumpang. Sang supir kemudian memberi Harvey sebuah kartu dan berkata, "Nama saya Wally. Sementara saya memasukkan barang bawaan ke bagasi, silakan membaca pernyataan misi saya. “ Harvey kemudian membaca kartu tersebut, yang tertulis “Misi Wally: Mengatar pelanggan ke tempat tujuan dengan cara tercepat, teraman, dan termurah dalam lingkungan yang bersahabat.” Harvey sangatlah terkejut, terutama setelah ia melihat bagian dalam taksi yang sangat bersih. Di belakang kemudi, Wally berkata “Apakah Anda ingin kopi? Saya punya yang biasa dan tanpa kafein.” Harvey pun berkata “Tidak, saya ingin minuman ringan saja.” dan ternyata, Wally menjawab, “Tak masalah, saya punya pendingin dengan Coke biasa dan Diet Coke, air, serta jus jeruk.” Dengan terkagum-kagum, Harvey berkata “Saya mau Diet Coke saja.” Setelah memberikan Diet Coke, Wally pun kembali menawarkan “Jika Anda ingin membaca, saya punya The Wall Street Journal, Time, Sports Illustrated dan USA Today." Ketika taksi mulai berjalan, Wally kembali menawarkan radio mana yang ingin didengar oleh Harvey. Tapi ternyata masih ada lagi; Wally menanyakan apakah AC nya sudah pas dengan pelanggannya tersebut. Selama perjalanan, Harvey pun penasaran. “Apakah kau selalu melayani pelanggan seperti ini, Wally?” Tanya Harvey. Wally kelihatan tersenyum dari kaca taksinya. “Tidak selalu, malah baru di dua tahun terakhir. Di tahun pertama, saya banyak mengeluh seperti kebanyakan supir taksi. Kemudian saya mendengar Wayne Dyer di radio yang mengatakan bahwa ia baru saja menulis buku berjudul ‘You’ll See It When You Believe It’. Ia mengatakan bahwa jika Anda bangun dan mengharap hal buruk terjadi, maka itu hampir pasti terjadi. Ia berkata, ‘Berhenti mengeluh! Berbedalah dari pesaing Anda. Jangan menjadi bebek. Jadilah elang. Bebek menguik dan mengeluh. Elang membumbung tinggi di angkasa.’ Hal ini menohok saya. Ia sedang membicarakan saya, jadi saya mengubah sikap dan memilih untuk menjadi elang. Saya melihat supir taksi lain, dan saya melihat bahwa mobil mereka kotor, mereka tidak ramah, dan pelanggan mereka tidak senang. Jadi saya memutuskan untuk membuat perubahan sedikit demi sedikit. Ketika pelanggan suka, saya meningkatkannya.” “Pasti kau sudah merasakan manfaatnya”, kata Harvey. ‘ "Tentu saja," Jawab Wally. "Di tahun pertama saya sebagai elang, penghasilan saya naik dua kali lipat. Tahun ini mungkin menjadi empat kali lipat. Anda beruntung bisa mendapatkan saya hari ini. Saya tak menunggu di pangkalan lagi. Pelanggan saya menelpon saya atau meninggalkan pesan di mesin penjawab. Jika saya tak bisa menjemput mereka sendiri, saya meminta bantuan teman saya.” Cerita Wally memang sangat inspiratif. Ia memberi layanan sebuah limo dari sebuah taksi, melipatgandakan penghasilan, karena ia memilih untuk menjadi elang dan bukannya bebek yang mengeluh.
Berbagai sumber....
Senin, 29 April 2013
"20 Tahun Lalu untuk Semangat Hari ini"
Hulma Yuwelni
Singguling
Walaupun belum seberapa dibanding jihad saudara-saudara kita di Palestina yang rasanya jauuh sekali. Tapi dibanding jihad diri hari ini lumayan besar disaat itu. Yang saya inginkan adalah mengingatkan diri, bahwa kemudahan ternyata tidak berbanding lurus dengan semangat untuk terus beraktifitas.
20 tahun lalu kami sekeluarga tinggal di sebuah desa, Singguling, kurang lebih 45 km utara Padang. Di masa itu kendaraan yang ada adalah bendi, itupun kalau masih siang, kalau sudah sore tidak ada lagi, dan Subuh belum ada apalagi kalau sebelum Subuh. Alhamdulillah transportasi Padang-Bukit Tinggi-Pekan Baru cukup lancar, itulah kendaraan yang sangat bermanfaat di saat itu.
Hubungan komunikasi juga belum selancar sekarang tapi kok komunikasi lebih nyambung ya. Dengan memanfaatkan wartel yang masih 1-2 komunikasi sangat efektif sekali. Untuk acara pekanan sudah tetap, kalau untuk acara insidentil ada saja ikhwan pakai motor menyampaikan secarik kertas pesan, dan tanpa banyak tanya kita mampu menjalankan agenda dakwah.
Awal 1993, ketika itu kami baru saja punya bayi, anak kedua yang dilahirkan sebelum Shubuh tanggal 23 Januari 1993. Dari pukul 12.00 malam sudah mulas setiap 30 menit sekali, pukul 04.00 sudah tidak tertahankan mulas, saya bangunkan abinya. Tanpa fikir panjang abinya berlari ke rumah neneknya (0,5 km) di mana sepupunya yang bidan desa tinggal. Tapi kebetulan ibu mertua saja yang ada di situ, mertua saya datang untuk ambil anak pertama kami, dan abinya langsung berlari lagi ke tempat praktek sepupunya yang berjarak kira-kira 1,5 km. Bagaimana bisa dia ke rumah kami sedang dia lagi menangani pasien yang melahirkan juga.
Abinya juga tidak memikirkan apa-apa lagi langsung berbalik dan menjemput saya, yang saya ingat pada waktu itu saya berjalan dipapah abinya berjalan sejauh 1,5 km dalam keadaan setengah sadar, Alhamdulillah ada penerangan dari truk yang lewat dari mengambil kerekel ke sungai. Subhanallah begitu sampai ke kamar bersalin lahirlah putri kami kedua tepat setelah adzan Subuh, begitu diadzankan dan diiqamatkan di telinga kiri dan kanan dalam kondisi mandi keringat juga abinya shalat Subuh. Cuaca yang cukup dingin di perkampungan itu menjadi sangat panas kami rasakan namun tetap bahagia sekali. Putri ini kami namai dengan Annisa udz-Zakiyah, sekarang sudah kuliah. Alhamdulillah…
Demikian sulit untuk transportasi, pergi bersalin, pagi buta , tidak ada kendaraan dijalani tanpa keluh kesah, enjoy saja tapi hari ini banyak kendaraan dan komunikasi lancar masih juga ada alasan untuk malas pergi liqo` maupun mengisi liqo. Itu yang ingin dingatkan pada diri ini, keadaan ke depan belum tentu lebih baik, namun syurga memang hanya bisa didapatkan dengan pengorbanan, Jihad fii Sabilillah.
20 tahun lalu untuk liqo kami sampai bawa 3 anak di perut, digendong dan dibimbing juga ada. Dengan naik angkutan umum pernah berdiri sejauh 40 km lebih juga pernah dijalani. Sekali lagi diri ini menjalani dengan mudah dan senang, hari ini selain banyak fasilitas, diri ini tidak lebih giat? Apa yang salah? Ternyata semangat jihad tidak berbanding lurus dengan fasilitas dan kemudahan yang ada. Allahumma ya Rabbi ampuni hambbaMu yang dhaif ini.
Kami mendambakan syurgaMu namun hari demi hari kami jalani semakin enak, namun masih belum membuat kami beraktifitas lebih baik. Ukhuwah pun kadang tak indah, kadang kami tidak puas dengan saudara kami padahal belum tentu kami lebih baik dibanding saudara kami. Kadang juga aib saudara kami kami umbar ke orang banyak padahal belum tentu aib kami lebih sedikit disbanding saudara kami. Ampunilah hambaMu ini, ampunilah kami Ya Rabb....
Wallahu `alam bissawab
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Kamis, 18 April 2013
Jangan sampai mendapat "lemparan kecil" dari Allah swt.
Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang lagi bekerja dibawah.. Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaanya dan bisingnya alat bangunan.. Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh keatas, di lemparnya uang. 1.000-an rupiah yang jatuh tepat di sebelah si pekerja..Si pekerja hanya memungut uang Rp 1.000 dan melanjutkan pekerjaanya..
Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.. Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.. Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja.. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.....
Cerita tersebut diatas sama dengan kehidupan kita,ALLAH selalu ingin menyapa kita,akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita di beri rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur.. !!!!!Bahkan lebih sering kita tidak mau tau dari mana rejeki itu datangnya····
Bahkan kita selalu bilang····· kita lagi "HOKI!"Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik ALLAH .
Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yang kita sebut musibah! agar kita mau menoleh kepada ALLAH.
Guru sekolah dasar
Rabu, 17 April 2013
Intermezzo Empat Khalifah (Part.II)
GURU SEKOLAH DASAR
Oleh Yoan
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alahiwassalam telah berhasil membawa masyarakat islam ke puncak keluhuran melampaui manusia biasa. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pahlawan adalah mereka yang berhasil melampaui kemampuan dirinya, maka ialah Rasulullah yang telah berhasil mencetak pahlawan-pahlawan islam yang sanggup berjuang hingga bahkan kering titis darah mereka.
Pada intermezzo kali ini, mari kita sejenak bernostalgia pada kejayaan ‘Umar bin Khaththab ra.
Dialah ‘Umar bin Khaththab yang tubuhnya besar kekar, yang kekuatan fisiknya mampu mengalahkan 20 puluh orang dewasa saat ini, yang juga suara berat berwibawanya berpadu dengan kecerdasan pikirnya.
Kehadiran ‘Umar dalam kancah sejarah islam telah melejitkan fase dakwah dari sirriyah menjadi terang-terangan. Atas izin Allah pula lah, kekhalifahan yang dipimpin oleh ‘Umar setelahnya mampu mendobrak ekspansi terluas sepanjang sejarah dengan rentang waktu 10 tahun 6 bulan 8 hari saja.
‘Umar bin Khaththab telah diangkat oleh Abu Bakr Ashshiddiq ra sebagai khalifah dengan cara tariqul-ahad, yaitu memilih sendiri penggantinya setelah mendengarkan pendapat yang lain, dan lalu membai’atnya di depan umum. Beberapa ulama berpendapat, bahwa cara ini dipilih karena Abu Bakr ingin menghindari perpecahan dalam tubuh ummat jika mereka memilih sendiri, persis seperti yang sempat terjadi pada masanya.
Sepanjang masa kekahalifahannya, ‘Umar berhasil memunculkan berbagai macam peristiwa spektakuler dan mencengangkan sejarah. Tak heran lagi, jika concern utama panglima sejati ini adalah PENAKLUKAN dan PERLUASAN.
Banyak pihak yang menklaim ‘Umar sebagai “tukang perang”, padahal ianya sendiri sangat membenci perang jika bukan untuk pembelaan dan perlindungan terhadap agama dan wilayah islam. Uniknya pertahanan atau penaklukan ini justru berujung pada perluasan wilayah. Inilah hebatnya ‘Umar, STRATEGIS!
Tercatat kurang lebih 44 penaklukan yang berhasil dimenangkan di bawah kepemimpinan ‘Umar, meliputi jazirah Arab, Syiria, Mesir, sebagian besar Persia, termasuk pula pembukaan Baitul Maqdis. Bahkan Damaskus telah ditaklukan ‘Umar pada tahun pertama kekhalifahannya, melanjutkan perjuangan yang sempat dilakukan di masa Abu Bakr. Begitu juga dengan Baitul Maqdis, kota ini dikepung selama empat bulan oleh pasukan muslim yang dipimpin oleh ‘Amru bin Ash, sebelum akhirnya dapat ditaklukkan dengan syarat Khalifah Umar bin Khattab sendiri yang menerima “kunci kota” itu dari Uskup Agung Sefronius, karena kekhawatiran mereka terhadap pasukan Muslim yang akan menghancurkan gereja-gereja.
Adapun dalam strategi militer, ‘Umar berhasil menemukan sistem militer yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya, yang mana ‘Umar membagi pasukan besarnya menjadi batalion-batalion yang lebih kecil, sesuai dengan isi surat ‘Umar kepada Sa’ad bin Abi Waqash;
“Jika engkau sudah menerima suratku ini maka pecahlah pasukanmu menjadi satuan-saatuan yang lebih kecil. Jelaskan kepada mereka tentang tindakan itu, angkatlah pemimpin untuk tiap-tiap pasukan, berilah perintah pemimpin-pemimpin itu di depan semua pasukan, hormati mereka di depan anak buah mereka, dan serahkan panji-panji pasukan pada prajurit yang paling cepat memacu kudanya.”
Uniknya, keluhuran hati dan kebijaksanaan ‘Umar membuat para musuh pada akhirnya kagum dan percaya dengannya, ini disebabkan oleh semua penaklukan ‘Umar justru memberikan dampak positif pada wilayah tersebut. Maka tak heran, pada masa ‘Umar, orang berbondong-bondong masuk islam tanpa paksaan. Inilah memang yang menjadi misi ‘Umar, penakulukan untuk menegakkan keadilan, serta menggenapi pewaris negeri dengan keislaman.
Di balik pribadi ‘Umar yang terkenal tegas dan keras, sesungguhnya ‘Umar sendiri juga merupakan sosok yang sangat penyayang dan melankolis. Seringkali ‘Umar menangis karena takut pada Allah subhanallahuta’ala. Bahkan ‘Umar adalah pemimpin yang tak pernah segan-segan turun langsung untuk meminta nasehat dari rakyatnya.
‘Umar jugalah yang terkenal sebagai pemimpin tukang ronda, menginspeksi langsung keadaan rakyatnya, bahkan tanpa satu orang pengawal pun. Ini seperti kisah yang dituturkan oleh Auza'iy, yang pada satu malam 'memergoki' Khalifah Umar masuk rumah seseorang. Ketika keesokan harinya Auza'iy datang ke rumah itu, ternyata penghuninya seorang janda tua yang buta dan sedang menderita sakit. Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang yang datang ke rumah mengirim makanan dan obat-obatan. Tetapi janda tua itu tidak pernah tahu siapa orang tersebut. Padahal orang yang mengunjunginya tiap malam tersebut tidak lain adalah khalifah yang sangat ia kagumi selama ini.
Subhanallah… mudah-mudahan Allah memuliakan ‘Umar..
Masih panjang daftar kebajikan serta keberanian yang telah dilakukan ‘Umar bin Khaththab. Sampai akhirnya sang panglima ini syahid di saat akan mengimami sholat shubuh oleh tikaman Abu Lukluk, yang konon menaruh dendam terhadap kekalahan Persia serta kebijakan-kebijakan ‘Umar.
Sebelum menutup kisah ini, ada cuplikan menarik tentang percakapan ‘Umar dengan Salman Alfarisi ra;
‘Umar: apakah aku ini raja atau khilafah?
Salman menjawab, jika engkau memungut satu dirham, lebih sedikit atau lebih banyak, dari tanah kaum muslimin. Lalu engkau menggunakannya bukan pada haknya, berarti engkau seorang RAJA, dan bukan KHALIFAH.
Lalu meneteslah air mata bening di tubuh tegap gagah itu.. Air mata tanda takut pada Rabb-nya..
Wallahua’lam.
Medan, 16-4-2013
by @yoan_dolang
*baca juga: Intermezzo Empat Khalifah (part I)
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
GURU SEKOLAH DASAR
Selasa, 16 April 2013
Bidadari-Bidadari Dunia, Siapakah Dia? | by @MinieBintis
Medan
Bidadari merupakan simbol kesucian, keagungan, kemuliaan dan ketinggian. Siapapun yang berfikir tentang bidadari, maka yang tergambar adalah segala yang indah –indah. Kenikmatan yang sekuat apapun saat dibayangkan, tidak akan sanggup terlintas oleh mata, kemerduan suara yang tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.
Begitu indah tampilan bidadari yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Telapak tangan yang lembut, aroma tubuh yang harum semerbak, rambut yang wangi, wajah dan mata yang bersinar cemerlang, bola matanya indah penuh pesona. Tatapannya sanggup menggetarkan hati yang memandang.
Tidak hanya fisik yang menawan, akhlak bidadari surga berada dalam ketinggian perilaku. Dalam Q.S Ar Rahman Allah menjelaskan bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangan, seakan-akan biadadari itu adalah permata yakut dan marjan.
Bidadari surga yang dimaksud berjenis kelamin perempuan. Hal ini sejalan dengan ungkapan bahwa perempuan dapat mengubah dunia. Bukan karena fisik yang kuat dapat mengalahkan militer, tapi karena kecantikan fisik/ fisikis yang ia miliki seperti sihir.
Realita keagungan bidadari mendistorsi keterangan para pemuja feminisme yang menganggap bahwa tubuh perempuan adalah hak untuk boleh diobral murah, bahkan oleh sesama jenis. Bertolak belakang dengan bidadari surga dan perempuan shalihah, ia terbiasa menundukkan pandangan, matanya tidak liar, hanya memandang yang baik- baik saja.
Selain itu, bidadari bukan sosok perempuan yang mudah dipegang- pegang. Ia hanya bisa dipegang oleh pemiliknya. Bidadari beretalasekan surga hingga ia tidak pernah dijamah oleh sipapaun. Maka etalase perempuan shalihah adalah iman dan ketaqwaan yang mendalam.
Ada yang Berbeda
Terdapat korelasi antara perempuan shalihah dengan bidadari surga. Yaitu sama-sama terjaga dan digambarkan sebagai sebaik-baik perhiasan. Memikirkan derajad bidadari yang tinggi di surga membuat para perempuan dunia cemburu padanya.
Abu Hayyam dalam tafsirnya, Al-Bahrul Muhith menyatakan bahwa bidadari surga diciptakan oleh Allah sedemikian rupa tanpa ada proses kelahiran. Allah katakan jadi, maka jadilah. Berbeda dengan proses kejadian manusia yang tidak terlahir secara instan.
Kelahiran manusia berawal bukan sejak ibu mengandung, tetapi sejak pemilihan pasangan suami atau istri. Ibarat ladang yang subur namun ditanami bibit yang buruk, maka hasilnya tidak akan baik. Atau sebaiknya, bibit yang unggul ditanam pada lahan yang tandus, maka tanaman itu akan kerontang. Buah jatuh tidak jauh dari pohon.
Pilihan yang terbaik adalah saat tanah yang subur ditanami dengan bibit yang unggul. Komparasi yang baik. Maka lahirlah generasi –genarasi yang unggul. Sehat fisiknya, cerdas akalnya, berakhlak mulia perilakunya dan menebar kebaikan bagi sesama.
Pelajaran bagi setiap perempuan untuk terus memperbaiki keshalihan, karena janji Allah pasti. Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, begitu sebaliknya. Kembali kepada proses penciptaan manusia. Makhluk Allah yang mampu merakit dan merangkai teknologi canggih ternyata berasal dari hal yang sangat hina yaitu nutfah (air mani).
Walaupun sama-sama perhiasan, perempuan shalihah dan bidadari surga memiliki derajad yang tidak sama di sisi Rabb nya. Sungguh Allah Maha adil, Ummu Salamah wanita cerdas yang Allah pilih sebagai perwakilan menyuarakan aspirasi suluruh perempuan. Pandangan Ummu Salamah yang jauh ke depan memikirkan nasib perempuan shalihah di surga.
Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah berlandaskan Qs. Ash-Shaffat ayat 48 yang mengatakan bahwa bidadari surga bermata jelita. Ia khawatir kecantikan wanita shalihah di surga kelak akan dikalahkan oleh bidadari surga, tentu suami-suami mereka akan cenderung menjauh padanya. Ups*…
Berikut dialog yang menentramkan hati para perempuan dan menambah keyakinan akan Keagungan Allah.
Ummu Salamah bertanya, "Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia yang shalihah ataukah bidadari bermata jelita?
Rasulullah menjawab, "Wanita-wanita dunia yang shalihah lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat”.
Sungguh, berita yang disampaikan Rasulullah begitu membahagiakan hati. Ummu Salamah semakin yakin dan kembali bertanya "Mengapa perempuan shalihah lebih utama daripada bidadari?
“Karena sholat mereka, puasa mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaianya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas”.
Wajah Ummu Salamah semakin berseri atas jawaban Rasulullah, bahkan manusia agung sejagad raya itu pun menerangkan bahwa para perempuan shalihah ahli surga, mereka akan berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut - sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya…”
Rasulullah ketika berbicara selalu dibimbing oleh Allah, perkataannya bukanlah kebohongan, melainkan petunjuk dalam menapaki liku kehidupan. Allah Maha adil, kedudukan wanita shalihah lebih mulia dari bidadari surga karena pertarungan dan jual beli yang ia lakukan.
Siapakah Dia???
Perempuan shalihah diciptakan tidak secara instan sebagaimana bidadari surga. Setelah Allah menakdirkan siapa yang akan menjadi ayah dan ibunya, wanita shalihah berjuang sejak dalam kandungan ibu. Berlomba-lomba menembus rahim yang sangat kokoh.
Dalam kandungan ia mulai belajar mandiri. Belajar sejak usia 12 minggu. Ia belajar bereksplorasi menyentuh kepala, memegang tali pusat dan memiliki refleksi menendang. Usia 24 minggu ia mulai berkedip dan mulai mendengarkan suara sayu-sayu.
Sesekali ia menceguk dan merasai air ketuban ibu. Usia 28 minggu ia telah memiliki memori otak, ia mulai bisa mengingat apa yang diperdengarkan ibu, apakah suara musik, murottal Al- Qur’an ataukah suara makian. 33 minggu ia bisa mulai bermimpi dalam tidur. Pada akhirnya, perjuangan dalam perut ibu berakhir setelah usia 40 minggu, ia siap melihat dunia dan terlahir.
Perjuangan wanita shalihah tidak sampai disitu, bagi yang terlahir dari keluarga muslim ia diuji oleh Allah dengan keyakinan/ iman karena ikut-ikutan orang tua ataukah benar- benar yakin 100% akan Islam. Bagi yang terlahir tidak dari keluarga muslim, maka ia harus menemukan kebenaran yang hakiki.
Hingga masa remaja dan dewasa, Allah uji dengan kemiskinan, kepayakan, kelaparan. Diuji dengan sakit, broken home atau bahkan ujian lewat lawan jenis. Ia harus menahan lapar saat yang lain makan di bulan Ramadhan, melaksanakan shalat fardlu, menutup aurat saat yang lain memamerkan lekuk tubuhnya. Masih banyak lagi ujian yang datang.
Dalam perjuangan mendapatkan predikat shalihah dari Allah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sudah lewat satu ujian, maka datanglah ujian selanjutnya. Terkadang Allah uji pula dengan kesenangan, bergelimangan harta, wajah yang rupawan dan sebagainya.
Artinya, setiap waktu Allah uji. Dimanapun dan kapanpun kita berada. Semakin tinggi keimanan seorang perempuan, maka akan semakin tinggi pula tingkatan ujian yang dihadapi. Karena surga juga bertingkat- tingkat.
Maka beruntunglah bagi setiap perempuan shalihah yang Allah pilih untuk bisa duduk berdampingan dengan para sahabiyah /sahabat, berjumpa Rasulullah dan melihat Allah di surga Firdaus. Itulah sebaik-baik tempat tembali.
Maha suci Allah yang telah memuliakan derajat perempuan dengan menjadikannya sebaik-baik perhiasan di dunia dan akhirat. Allah saja yang Maha pencipta, menjunjung tinggi harkat perempuan, lalu mengapa kita justru berpaling dan menghinakan diri dengan kebathilan. Memilih kehinaan dengan pacaran sebelum menikah, meninggalkan shalat, menggunjing, sombong dan acuh tak acuh terhadap Islam.
Hanya orang-orang yang berfikir yang mampu mengambil pelajaran dan hikmah atas setiap apa yang ia baca, apa yang ia lihat, dan ada yang ia dengar.
Wallahu ‘alam
*penulis: @MinieBintis on twitter
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Intermezzo Empat Khalifah
Oleh Yoan
Kisah perjalanan empat khalifah yang masyhur dengan julukan khulafaur-rasyidin merupakan satu fase perjalanan sejarah yang sepantasnya menjadi cermin dari frame work kerja dan perjuangan kita saat ini.
Abu Bakr Ashshiddiq ra, ‘Umar bin Khaththab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib ra, ialah empat mutiara islam hasil sepuhan langsung tangan Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam. Empat karakter mutiara ini telah Allah tetapkan untuk memimpin empat fase kekhalifahan yang berbeda, uniknya perbedaan ini telah diatur betul oleh Allah subhanallahuta’ala sehingga mix-match dengan masing-masing pribadi.
Mari kita singgah sekejap pada perlayaran singkat Abu Bakr Ashshidiq;
Masa kekhalifan orang terdekat Rasulullah ini hanya berjalan dua tahun tiga bulan, tapi sesungguhnya warisan penting dari waktu singkat tersebut ialah penjagaan mabda’ (prinsip dasar) ajaran islam dan menjadikannya sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.
Hal ini terlihat dari tiga hal penting yang menjadi concern utama sang Khalifah, yaitu:
1. Pemberantasan para murtad
2. Pemberantasan para nabi palsu di Yaman, seperti Musailamah dan Thulaihah Al-Assady
3. Memerangi para muslim yang enggan membayar zakat
Paska wafatnya Rasulullah sebagian bangsa Arab menyatakan terang-terangan bahwa mereka murtad disamping ada pula yang tetap islam namun menolak membayar zakat. Inilah masa transisi yang sulit setelah sosok panutan tidak lagi ada di tengah-tengah mereka. Menjadi catatan penting untuk kita dewasa ini, bahwa boleh-boleh saja terinspirasi dari siapa pun, tapi ingat lah bahwa jasad itu tidak utuh, ada pun esensi dari content kebaikan itulah yang sejati. Maka jangan semata-mata figuritas yang membuat kita kukuh, lalu ketika ia hilang kita pun loyo.
Dan masa transisi ini harus dilewati Abu Bakr dengan tegas., sebagaimana akhirnya beliau melancarkan perang terhadap para murtad dalam peristiwa habrur-riddah dengan memberangkatkan 12 kompi dalam satu hari. Setegas itu pula sikap Abu Bakr ketika menghadapi para pembangkang yang masih minta-minta kompromi dalam perkara zakat. Hingga terjadi pertempuran tak imbang antara pasukan Abu Bakr yang sedikit dan pasukan pembangkang yang banyak. Namun atas izin Allah terhadap keteguhan semangat Abu Bakr untuk mempertahankan prinsip dasar islam, pasukan mukmin menang telak dalam pertempuran dahsyat tersebut.
Inilah cermin berpikir yang jauh dan dalam. Walau pun sebagian ulama pada saat itu termasuk Umar pada awalnya tidak sepakat dengan sikap Abu Bakr untuk memerangi pembangkang karena keislaman mereka, namun Abu Bakr tetap dengan pendiriannya. Sikap ini adalah bentuk konsistensi memelihara fikrah islam demi pewarisan yang benar terhadap generasi selanjutnya. Ia utamakan keutuhan ajaran islam yang sempurna, daripada memelihara keutuhan kuantitas kaum muslimin dan negera namun tanpa fikrah islam yang utuh. Coba bayangkan seandainya saat itu Abu Bakr bertoleransi soal zakat? Barangkali saat ini kita jadi punya alasan untuk menjadikan zakat sebagai kisah harmoni masa lalu saja, tanpa pengamalan. Semoga Allah memberkahi keteguhan Abu Bakr.
Saat Abu Bakr merasakan ajalnya kian dekat, ia memanggil para sahabat untuk bermusyawarah perihal rencananya untuk mengangkat ‘Umar bin Khaththab sebagai khalifah selanjutnya. Banyak para sahabat yang tidak sepakat dengan pengangkatan Umar, namun setelah Abdurrahman bin ‘Auf menyampaikan tanggapannya bahwa, “kami tidak mengenal engkau (Abu Bakr) kecuali menginginkan yang terbaik, dan engkau tetap sebagai orang yang baik dan suka memperbaiki!” Barulah para sahabat tersadar.
Setelah Abu Bakr mantap betul dengan kerelaan orang muslim terhadap Umar, Abu Bakr membai’at Umar di hadapan kaum muslimin. Setelah peneguhan janji itu, Abu Bakr berwasiat pada Umar, sebagai berikut:
“Sesungguhnya aku mengangkatmu sebagai khalifah sepeninggalku. Hendaklah engkau BERTAQWA KEPADA ALLAH. Sesungguhnya Allah mempunyai amal malam hari yang tidak Dia terima pada siang hari dan amal siang hari yang tidak Dia terima pada malam hari. Dia tidak menerima ibadah sunnah sampai ibadah fardhu dijalankan. Bila engkau memelihara wasiat ini, maka tidak ada KEGAIBAN yang lebih engkau cintai selain KEMATIAN, sedang ia akan menimpamu. Dan jika engkau mengabaikan pesanku, maka tidak ada kegaiban yang lebih engkau benci selain kematian itu sendiri. Dan aku tidaklah mengalahkan Allah.”
Tak ada salahnya, jika wasiat ini turut kita jadikan pegangan, meski terkhusus Abu Bakr berikan pada Umar. Terlebih saat dakwah memasuki era menuju B3SAR ini. sebagaimana Abu Bakr paham betul, soal strategi bernegara, taktik politik, dll, tak perlu diwasiatkan, karena ia akan muncul dengan alaminya, namun PESAN KETAQWAAN, itulah sebaik-baiknya wasiat. Segala macam jalan kemudahan bernegara bagi Abu Bakr hanya dapat muncul dengan satu modal dasar, yaitu taqwal-quluub¸taqwa kepada Allah subhanallahuta’ala.
Menjelang kematiannya, Abu Bakr menghadapi sakratul maut didampingi putri tercintanya, A’isyah ra, persis seperti yang dilalui oleh sahabat terkasihnya, Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam. Saat A’isyah mendendangkan satu buah sya’ir, Abu Bakr dengan ruhul-qur’an nya justru melantunkan sepenggal ayat ke 19 dari surah Qaaf;
“Dan datanglah sakratul-maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”
Kemudian melayanglah ruh Mujahid sejati ini, sedang tutur terakhirnya adalah:
“Ya Rabbi, matikanlah aku dalam keadaan muslim dan pertemukanlah aku dengan orang-orang shalih.”
Berakhirlah hidup Abu Bakr di pentas dunia nan fana ini, sementara satu amalnya, kata Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam, tak mampu menyamai amal seluruh kalian. Hingga Umar nan gagah pun menetes air mata beningnya, seraya berucap:
“Wahai Abu Bakar, engkau telah menjadikah khalifah sesudah engkau susah untuk menirumu!”
(bersambung)
@yoan_dolang
Medan, 15-4-2013
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
Minggu, 14 April 2013
Dalam Lingkaran Cinta: Saat Ukhuwah Tak Sebatas Kata
By: Leyla Hana*
Judul: Dalam Lingkaran Cinta
Penulis: Muhammad Sholich Mubarok
Twitter Penulis: @paramuda
Penerbit: Piguna Books – nulisbuku.com
Cetakan: I April 2013
“Hadap-hadapanlah antom dengan teman yang duduk di sebelah antum,” pinta Murobbi kepada kami yang sedang memasuki materi hakikat ukhuwah.
Aku pun melakukannya. Aku berhadap-hadapan dengan Ilyas, ikhwah yang paling dekat dengan diriku.
“Lalu, saling berpegangan erat tangan kalianlah,” lagi-lagi kami melakukan perintah Murobbi.
“Untuk buktikan makna ukhuwah, katakanlah dengan penuh kasih sayang. Akhi, aku mencintaimu karena Allah, lalu berikan barang yang paling antum sukai dan sedang antum bawa saat ini. Silakan.”
Aku menatap “Fiqih Dakwah” Syaikh Musthafa Masyhur. Haruskan aku menyerahkan barang yang aku cintai ini, yang baru saja aku beli dengan hasil keringat sendiri? Buku yang dibeli oleh seorang tukang keripik?
***
Salah satu adegan di dalam cerpen berjudul “Bila Buku Dipertaruhkan” cukup menyentil nurani saya. Mengingatkan kembali akan makna ukhuwah yang pernah tertanam di otak saya, saat masih duduk di bangku kuliah. Adegan itu pernah saya alami juga, di awal kegiatan Mentoring Rohani Islam. Berhadap-hadapan dengan seorang teman, saling meminta maaf, lalu membasahi bahu teman dengan air mata. Ukhuwah, satu kata indah yang mengikat hati setiap mukmin dengan mukmin lainnya.
Tingkatan tertinggi di dalam ukhuwah adalah manakala kita sanggup memberikan barang kecintaan kita kepada orang lain. Saya teringat saat seorang teman memuji gamis yang dipakai seorang akhwat. Akhwat itu lalu berkata, “Aduh, berarti saya harus memberikan gamis ini ke anti ya!” Yah, kejadian itu tak terjadi. Sebab, sang teman menolak. Inilah indahnya ukhuwah, yang diteladani dari hubungan para sahabat nabi, saat kaum Muhajirin berhijrah, dan ditampung di rumah-rumah kaum Anshar. Kaum Anshar begitu ringan tangan memberikan apa pun yang mereka miliki untuk kaum Muhajirin. Sudahkah kita sampai ke tingkatan itu? Jangankan memberikan benda kesayangan kepada sahabat, mendengar sahabat kita mendapatkan rezeki saja belum tentu kita ikut berbahagia. Yang ada malah iri dan dengki.
Kisah-kisah di dalam buku “Dalam Lingkaran Cinta” karya M. Sholich Mubarok ini benar-benar menyentil saya. Saya rindu membaca cerita yang bisa mendekatkan hati kepada Sang Pencipta, mengeratkan kasih sayang kepada sesama muslim, mengenyahkan ego, prasangka buruk, dan nafsu pribadi. Saya rindu sekali membaca buku yang menggetarkan hati, dan saya menemukan di sini. Buku ini merangkum semua kisah cinta, suami kepada istri, sahabat kepada sahabat, dan semua yang ada di dalam lingkaran Islam.
Ada kisah seorang suami yang membenci bunga mawar, tapi harus memaksakan diri membeli bunga mawar untuk istrinya yang sedang sekarat, karena sang istri sangat ingin melihat bunga mawar sebelum ajal menjemput. Kisah ini tertulis dengan indah di dalam cerpen berjudul “Lelaki Bunga.” Di lain tempat, ada kisah seorang santri yang harus melawan nafsunya untuk mencuri sandal di bulan Ramadan, tapi akhirnya kalah juga karena terbentur oleh keadaan dalam cerpen berjudul “Siapa Penculik Sandal Gesit.” Dan beberapa kisah terjadi dalam lingkup jurnalistik, di mana sang penulis berkiprah. Perjuangan seorang wartawan muda saat harus meliput penangkapan seorang koruptor, bahkan saat harus mengikuti peluncuran film LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual). Semua kisah ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna dan penuh hikmah.
Namun, tak ada gading yang tak retak. Sebagai buku yang diterbitkan indie, buku ini sudah baik secara kover, kertas, bidding, dan layout isi. Sayangnya, editorialnya masih harus dibenahi. Sebagai buku yang dicetak POD (Print on Demand), perbaikan-perbaikan itu masih memungkinkan.
*Penulis Buku “Taaruf: Proses Perjodohan Sesuai Syariah” dan “Cinderella Syndrome.”
:: PKS PIYUNGAN | BLOG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA ::
Klik Download App BB | Klik Download App Android
gurusekolahdasar3.blogspot.com
Sabtu, 13 April 2013
Tadharru' (penuh pengharapan)
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moch Hisyam
Pada suatu malam di pelataran Ka’bah, Thawus bin Kisan ra mendapati Ali bin Husein -yang lebih dikenal dengan Zainul Abidin ra- sedang bermunajat kepada Allah SWT.
Dengan penuh pengharapan (tadharru’), terdengar ia merendahkan dan menghinakan dirinya diiringi dengan deraian air mata bermohon agar Allah SWT memberikan ampunan kepadanya.
Setelah Ali bin Husein menyelesaikan munajatnya, Thawus menghampiri. Ia berkata, "Wahai cucu Rasulullah SAW, mengapa engkau menangis seperti ini, sementara engkau memiliki tiga keistimewaan yang tak dipunyai orang lain.
Pertama, engkau adalah cucu Rasulullah SAW. Kedua, engkau akan mendapat syafaat dari Rasulullah SAW. Dan ketiga, keluasan rahmat-Nya untukmu."
Mendengar pernyataan Thawus itu, Ali bin Husein menjelaskan semuanya bukan jaminan ia akan mudah mendapatkannya.
Beliau berkata, "Ketahuilah hubungan nasabku dengan Rasulullah, bukan jaminan keselamatanku di akhirat sana setelah aku mendengar firman Allah SWT, ‘Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak ada pula mereka saling bertanya’." (QS al- Mukminun [23]: 101).
Sedangkan syafaat Nabi SAW, maka Allah SWT berfirman, "Dan mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (QS al-Anbiya` [21]: 28).
Dan terakhir, terkait rahmat-Nya, Allah berfirman, "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS al-A’raf [7]: 56).
Kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk bersikap tadharru’ (penuh harap dan merendahkan diri) dalam beribadah kepada Allah SWT, terutama ketika sedang berdoa.
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri (penuh harap) dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS al-A’raf [7]: 55).
Tadharru’ merupakan akhlak dan etika yang harus kita bangun ketika membina hubungan dengan Allah SWT. Hal ini kita lakukan sebagai wujud penghambaan diri kita kepada Zat Penguasa alam semesta, Allah SWT.
Tadharru' mengandung makna tadzallul (kerendahan dan kehinaan diri) dan istiqamah (ketundukan diri). (Jami’-ul bayan ‘an ta’wil al-Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari).
Oleh karena itu, ketika kita ber-tadharru’ kepada Allah SWT, akan menumbuhkan kesungguhan dan kekhusyu'an dalam beribadah dan berdoa serta menjadi sebab Allah SWT akan meninggikan derajat kita di sisi-Nya.
Mari kita renungi penjelasan Imam Ahmad bin Hambal ketika mendeskripsikan 'tadarru' agar kita dapat bersikap tadharru'.
Beliau berkata, "Bayangkan seseorang yang tenggelam di tengah lautan dan yang dimilikinya hanyalah sebatang kayu yang digunakannya supaya terapung."
"Ia menjadi semakin lemah dan gelombang air mendorongnya semakin dekat pada kematian. Bayangkanlah ia dengan tatapan matanya yang penuh harapan menatap ke arah langit dengan putus asa sambil berteriak, "Ya Tuhan ku, Tuhanku!"
Bayangkanlah betapa putus asanya dia dan betapa tulusnya ia meminta pertolongan Tuhan. Itulah yang disebut dengan tadharru’ di hadapan Tuhan."
Guru sekolah dasardasar